Langsung ke konten utama

Algoritma Pikiran Kita

 


oleh Imam Maulana untuk kader dakwah

Bila kita hendak mengenal diri kita, mungkin kita dapat melakukan riset kecil-kecilan dengan membuka beranda atau halaman pencarian media sosial di akun utama kita. Di sana akan muncul berbagai konten FYP tersaji. Mohon diingat, akun utama ya, bukan seccond account yang 0 postingan dan biasa digunakan saat jadi buzzer atau digunakan sekedar buat stalking akun tertentu.  

Kita tahu bahwa apa yang FYP dalam algoritma media sosial kita, adalah cerminan dari diri kita. Algoritma media sosial tersebut memantulkan minat, kebiasaan dan emosi berdasarkan jejak digital. Semakin sering kita melihat suatu konten, semakin banyak konten serupa yang tersaji, dan lebih ekstrimnya, lama-kelamaan, algoritma tersebut akan membentuk realitas dalam pikiran kita.

Isi pikiran kita, mungkin juga persis seperti sebuah algoritma. Apa yang kita baca, tayangan yang kita tonton, dan segala hal yang dikonsumsi oleh pikiran kita, akan membentuk algoritma tersendiri. Sehingga kita adalah apa yang kita pikirkan. Dan pikiran tersebut mempengaruhi cara kita memandang sesuatu, mempengaruhi  bagaimana kita mengambil keputusan, mempengaruhi diksi yang terucap dalam kata-kata, bahkan lebih jauh lagi akan mempengaruhi prilaku, kebiasaan dan karakter yang melekat.

Bila kita membayangkan bagaimana Rasulullah membina generasi para sahabat dan kaum muslimin se-masa beliau hidup, maka kita akan temukan fakta menarik bahwa algoritma pikiran yang terbentuk secara kolektif dapat memberikan pengaruh yang dahsyat dalam etape sejarah peradaban dunia. Rasulullah tidak membangun peradaban dari puncak kekuasaan, tetapi ia membangun peradaban dari mulai pemahaman yang dipandu oleh Al-Quran. Lalu kita kemudian menyaksikan peristiwa sejarah yang dulu dianggap tidak masuk akal namun atas kuasa Allah semua bisa terjadi; bagaimana mungkin jazirah arab yang gersang, dapat mengalahkan dua raksasa dunia; persia dan romawi? Salah stau kekuatan kolektif umat islam tersebut bermula dari algoritma pikiran yang benar, lurus, dan selaras dengan fitrah.

Kita kemudian belajar bahwa perubahan sosial selalu diawali dari perubahan cara berpikir. Hal itu yang terjadi pada para sahabat nabi dan kaum muslimin di masa itu. Perubahan yang dilakukan oleh mereka tidak dimulai dari harta, fasilitas yang paling lengkap, tetapi perubahan sosial terjadi dimulai dari agoritma pikiran mereka yang setiap hari diisi oleh wahyu. Duduk bersama Rasulullah ﷺ, mendengar Al-Qur'an, berdiskusi tentang iman, jihad, dakwah, hingga tentang surga dan neraka serta tanggungjawab umat. Maka tak mengherankan bila yang lahir adalah generasi yang siap mengorbankan segalanya.

Sejalan dengan pemikirannya al banna dalam mentarbiyah kader-kadernya. Ia meletakan al-fahmu (pemahaman) di urutan pertama di antara 10 rukun komitmen aktivis dakwah. Peletakkan posisi tersebut menjadi landasan konseptual pembentukkan kader. Sebab seseorang tidak dapat beramal dengan benar, ikhlas dengan tepat, atau berjihad dengan terarah kecuali jika ia telah memiliki pemahaman yang benar tentang hakikat Islam dan dakwahnya terlebih dahulu. Maka al-Fahmu berfungsi sebagai pondasi epistemologis bagi seluruh bangunan pergerakan.

Lalu pertanyaanya, sudahkah kita mengatur algoritma dalam pikiran kita? Agar apa yang kita pikirkan, yang kita putuskan, yang kita ucapkan, dan yang kita lakukan dapat sejalan dengan perjuangan islam?

Sudahkah kita mengatur algoritma media sosial kita agar yang FYP di akun kita adalah konten-konten yang dapat meningkatkan pemahaman tentang islam dan meningkatkan semangat untuk memperjuangkan islam?

Kendati demikian, secara pribadi, saya juga belum ideal dalam mengatur algoritma tersebut dengan bijak. Saya juga seringkali melakukan eksplorasi konten yang viral yang ramai dibahas oleh para netizen, khususnya anak-anak Gen Z. Tapi hal itu dilakukan untuk memahami algoritma mereka sehingga kita bisa merancang strategi apa yang mungkin dilakukan agar dakwah kita bisa masuk dan fyp di media sosial mereka..

Wallahualam

Selasa, 30 Juni 2026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Buku Komitmen Muslim Sejati (Ust. Fathi Yakan) Bagian Pertama

BAB PERTAMA APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM? Bagian pertama buku ini memaparkan karakteristik terpenting yang harus ada pada diri seseorang agar ia menjadi muslim sejati. Berikut akan di bahas secara ringkas karakteristik paling menonjol yang harus ada pada diri seorang muslim agar pengakuannya sebagai penganut agama ini merupakan pengakuan yang benar dan jujur.  Dalil: Qs. Al-Hajj:78 Karakteristik yang harus dimiliki agar menjadi seorang muslim sejati adalah sebagai berikut: Pertama : SAYA HARUS MENGISLAMKAN AKIDAH SAYA          Syarat pertama pengakuan sebagai muslim dan sebagai pemeluk agama ini adalah hendaklah akidah seorang muslim adalah akidah yang benar dan sahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah Rasulullah Saw. Konsekuensi dari mengislamkan akidah saya: 1.            Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah Yang Hakim (Mahabija...

Menyoal Fanatisme Organisasi

Sebagai mahluk sosial, seseorang tidak bisa lepas dari orang lain dalam menjalani kehidupan. Hampir setiap hari, kita melakukan interaksi sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mungkin inilah yang mendasari lahirnya sebuah perkumpulan sosial, dimana ada sekelompok masyarakat yang memiliki tujuan yang sama dan bersepakat untuk bersama-sama meraih tujuan tersebut. Lahirnya perkumpulan sosial ini biasanya di latar belakangi oleh kesamaan nasib sepenanggungan yang dialami akibat situasi sosial yang ada. Misalnya, bangsa Indonesia sebelum meraih kemerdekaan, memiliki semangat yang sama untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan, sebab penjajahan tersebut sangat membuat bangsa Indonesia terpuruk. Padahal diantara mereka sendiri terdapat banyak perbedaan, misalnya berbeda daerah, berbeda suku, berbedaya budaya, tetapi dipersatukan oleh nasib yang sama sehingga memutuskan untuk bersama-sama menjadi sebuah bangsa pada 28 oktober 1928, setelah sekira tiga abad melawan pe...

Raport Merah

Nilai rendah, kerap ditulis dengan tinta pena berwarna merah pada raport siswa di sekolah. Mendapat nilai merah tentu adalah hal yang memalukan bagi sebagian siswa. Sebagian lagi sudah terbiasa dan menganggap hal yang lumrah. Tapi, Alhamdulillah saya belum pernah mencicipi nilai merah untuk mata pelajaran apapun. Malah, sejak kelas 1-3 SD, saya selalu rangking 1. Hanya saja kelas 4-6 SD mulai turun dikit-dikit, sebab saat kelas 4 SD, saya mulai menemukan warna dalam kehidupan. Yang jelas bukan warna merah pada buku raport. Hanya memang warna raport kita pas SD memang warna merah, merah marun. Tinta merah pada nilai rendah, mungkin semacam pertanda bahwa seorang siswa harus lebih giat dalam menguasai mata pelajaran tertentu.  Tinta merah, juga dipilih agar tampak jelas dan mencolok, mungkin agar mencolok mata wali murid, agar membantu pekerjaan guru di sekolah dengan bekerjasama mengajari anak-anaknya belajar di rumah. Namun ada yang harus diwaspadai, jika semua ...