oleh : Imam Maulana Akan ada waktu dimana sesuatu yang dimulai akan berakhir juga. Seberapapun sesuatu itu begitu memukau, namun bila waktunya tiba, maka akan selesai juga. Ini bukan tentang kisah peradaban yang jaya lalu redup, namun ini tentang cerita seorang pemain bola yang begitu hebat yang telah habis masanya. Hebat dalam teknik permainan sepak bola, hebat juga dalam empati terhadap sesama. Wajar bila banyak yang menggemarinya. Adalah Cristiano Ronaldo yang dikenal disiplin, gigih, dan sangat mencintai sepak bola. Semua orang menyaksikan betapa hebatnya ia di lapangan hijau, namun di akhir pertandingannya di Piala Dunia 2026 ia dianggap gagal, karena selama ini tidak pernah mendapat Trofi Piala Dunia. Namun ada kalimat yang membuat kita belajar di momen sebelum pertandiangan terakhirnya; “Apapun yang terjadi besok. Cristiano akan pergi dengan hati nurani yang bersih. Tidak 100%. Tapi 1000%. Karena saya telah memberikan segalanya”. Sebuah kalimat yang singkat, na...
oleh Imam Maulana untuk kader dakwah Bila kita hendak mengenal diri kita, mungkin kita dapat melakukan riset kecil-kecilan dengan membuka beranda atau halaman pencarian media sosial di akun utama kita. Di sana akan muncul berbagai konten FYP tersaji. Mohon diingat, akun utama ya, bukan seccond account yang 0 postingan dan biasa digunakan saat jadi buzzer atau digunakan sekedar buat stalking akun tertentu. Kita tahu bahwa apa yang FYP dalam algoritma media sosial kita, adalah cerminan dari diri kita. Algoritma media sosial tersebut memantulkan minat, kebiasaan dan emosi berdasarkan jejak digital. Semakin sering kita melihat suatu konten, semakin banyak konten serupa yang tersaji, dan lebih ekstrimnya, lama-kelamaan, algoritma tersebut akan membentuk realitas dalam pikiran kita. Isi pikiran kita, mungkin juga persis seperti sebuah algoritma. Apa yang kita baca, tayangan yang kita tonton, dan segala hal yang dikonsumsi oleh pikiran kita, akan membentuk algoritma tersendiri. ...