Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Refleksi

Mereka Yang Diperingati Satu Mei

  Oleh: Imam Maulana, S.Sos (Direktur Socialedu Center)   Di tengah genosida yang masih terjadi di Gaza oleh Israel, hari ini 1 Mei kita diajak untuk mengingat tentang sekelompok manusia yang terus berjuang dan melakukan perlawanan pada ketidakadilan. Cerita perjuangan dan perlawanan ini barangkali adalah memang agenda yang tidak terpisahkan dari kisah perjalanan umat manusia dalam melawan segala bentuk kedzaliman. Ada yang berjuang untuk mempertahankan tanah airnya seperti yang masih dilakukan oleh bangsa Palestina hingga hari ini, ada juga yang berjuang untuk memperoleh hak-haknya seperti kaum pejuang yang kita peringati hari ini. Kaum yang kita peringati hari ini memiliki peran penting pada hajat hidup orang banyak. Mereka adalah orang-orang yang membangun jalan yang kita lalui, mereka juga mengolah makanan enak yang kita makan, menjahit pakaian yang kita pakai, bahkan mereka juga adalah orang-orang yang membuat sepatu yang kita gunakan . Mereka adalah manusia-manusia dibal...

Ngebooster Semangat Mencari Ilmu

oleh: Imam Maulana Agenda ngopi kali ini kita coba jadwalkan malam hari, yang sebelumnya biasanya diagendakan di sore hari. Alhamdulillah semakin bertambah yang hadir. Ngopi ini hakikatnya memang bukan sekedar minum kopi bersama, tetapi melakukan refleksi sebagai seorang manusia dalam memandang suatu kehidupan.     Pertemuan kali ini tema perkopiannya adalah tentang bagaimana kita memaknai sebuah ilmu. Tema ini tentunya cukup familiar, terlebih pada circle mahasiswa, sebab mereka adalah orang-orang yang setiap hari berkutat pada sebuah keilmuan pada program studinya masing-masing di kampus.   Ilmu, bagi umat Islam adalah sesuatu yang amat penting. Bahkan ayat pertama yang turun ialah tentang proses mendapatkan ilmu, yaitu “Bacalah…”. Ayat pertama yang turun ini menjadi sinyal kepada kita bahwa belajar, menelaah, mengkaji, menganalisis, dan seluruh proses berfikir adalah sesuatu yang melekat pada umat Islam. Berfikir adalah karakter umat Islam, kira-kira begitu seharusnya ...

8 Tahun Menikah dan Pentingnya Kehangatan Keluarga

26 Maret 2025 merupakan hari jadi pernikahan kami yang ke 8 tahun. Usia yang terasa begitu panjang meski seperti baru kemarin kami menjalani akad nikah. 8 tahun yang berlalu tentu ada banyak dinamika yang telah kami lalui. Baik dinamika yang kami alami berdua maupun dinamika yang kami saksikan pada lingkungan sekitar. Atas dinamika yang terjadi, ada satu hal yang kami potret sebagai sesuatu yang kami anggap penting, yaitu adalah sebuah kehangatan dalam berkeluarga. Sebab kami merasa, kehangatan keluarga ini memberikan pengaruh pada kualitas personal setiap anggota keluarga. Semakin hangat hubungan sebuah keluarga, maka akan semakin baik psikis dari setiap anggota keluarga, dan semakin baik psikis seseorang maka ia akan tumbuh jadi seseorang yang memiliki positif vibes, produktif berkarya, serta mampu membagi cinta pada banyak pihak sebab tangki cintanya terisi dengan baik. Begitupun sebaliknya, keringnya hubungan sebuah keluarga akan memberikan dampak negatif pada setiap anggota kelu...

Mati Besar VS Mati Kerdil

                       Orang yang hidup untuk dirinya sendiri, kata Sayyid Quthub akan hidup sebagai orang kerdil dan mati sebagai orang kerdil. Tapi orang yang hidup untuk orang lain, akan hidup sebagai orang besar dan mati sebagai orang besar. Tamparan quotes ini cukup telak kita rasakan apabila kita mendapati bahwa benar diri kita selama ini memang terlalu memikirkan hidup kita sendiri. Kita seringkali terlalu gelisah kalau besok nggak bisa makan, kita terlalu takut kalau uang persediaan hidup untuk beberapa pekan ke depan mulai menipis, atau bahkan kita juga terlalu mengkhawatirkan tentang sukses atau nggaknya diri kita di masa depan. See,.. ternyata segala usaha yang kita lakukan selama hidup ini adalah untuk diri kita sendiri.             Tentang kesulitan yang dialami oleh orang lain, masalah-masalah yang tengah menjerat umat, lingkungan yang sedang ngg...

Menghina Orang

  *** Hukum dasar dari menghina atau mencela orang lain ialah haram. Sebab hal tersebut dilarang oleh Allah dalam QS. Al-Hujurat ayat 11.  Tapi mengapa secara khusus hanya Presiden yang dilarang dihina melalui pasal penghinaan kepala negara? Mengapa tidak ada pasal serupa untuk ulama, kiyai, atau tokoh agama, apabila memang melihat dari status jabatan penting dalam sebuah negara? Bukankah para tokoh agama juga bagian dari sosok terhormat yang berjasa menjaga NKRI, sehingga perlu dijaga nama baiknya, sama seperti kepala negara.  Kalau kita mau jujur, maka kita akan dapati bukan hanya kepala negara yang kerap dijadikan bahan lelucon akibat ketidaksukaan sebagian pihak. Namun, sebagian para tokoh agama kita yang berperan sebagai penguat NKRI, juga kerap mendapat perlakuan yang sama. Bahkan lebih jauh dari itu, siapapun pada dasarnya tidak berhak dihina. Apakah itu kepala negara, tokoh agama, atau rakyat jelata sekalipun. Tapi pertanyaannya, bagaimana kalau kita lagi emosi de...