Langsung ke konten utama

Cristiano Ronaldo 1000%



oleh : Imam Maulana


Akan ada waktu dimana sesuatu yang dimulai akan berakhir juga. Seberapapun sesuatu itu begitu memukau, namun bila waktunya tiba, maka akan selesai juga. Ini bukan tentang kisah peradaban yang jaya lalu redup, namun ini tentang cerita seorang pemain bola yang begitu hebat yang telah habis masanya. Hebat dalam teknik permainan sepak bola, hebat juga dalam empati terhadap sesama. Wajar bila banyak yang menggemarinya. Adalah Cristiano Ronaldo yang dikenal disiplin, gigih, dan sangat mencintai sepak bola. Semua orang menyaksikan betapa hebatnya ia di lapangan hijau, namun di akhir pertandingannya di Piala Dunia 2026 ia dianggap gagal, karena selama ini tidak pernah mendapat Trofi Piala Dunia.   


Namun ada kalimat yang membuat kita belajar di momen sebelum pertandiangan terakhirnya; “Apapun yang terjadi besok. Cristiano akan pergi dengan hati nurani yang bersih. Tidak 100%. Tapi 1000%. Karena saya telah memberikan segalanya”. 


Sebuah kalimat yang singkat, namun begitu mendalam. Untuk sesuatu yang ia amat sukai (sepak bola) ia mengatakan bahwa sudah memberikan segalanya. Dapat kita maknai bahwa ia telah benar-benar mengoptimalkan apa yang telah dimilikinya; waktu, tenaga, dedikasi, perhatian, materi, segalanya telah ia curahkan untuk sepak bola. Bukan hanya apa yang dia ucapkan, tetapi kita juga turut menyaksikan bagaimana ia memang betul-betul melakukannya dengan sungguh-sungguh secara totalitas. Sehingga hasil pertandingan di Piala Dunia bahkan Trofi Piala dunia bukan lagi dipandang sebagai capaian akhir atau puncak dari apa yang selama ini ia usahakan. 


Ronaldo dan totalitasnya dalam dunia sepak bola, mengingatkan saya akan apa yang pernah disampaikan oleh Imam Hasan Al Banna tentang makna Totalitas bersama Dakwah. Kata beliau “Dakwah ini tidak mengenal sikap ganda. Ia hanya mengenal satu sikap, Totalitas! Siapa yang bersedia untuk itu, maka ia harus hidup bersama dakwah dan dakwah pun melebur dalam dirinya. Sebaliknya, barangsiapa yang lemah dalam memikul beban ini, ia terhalang dari pahala besar mujahid dan tertinggal bersama orang-orang yang duduk. Lalu Allah SWT akan mengganti mereka dengan generasi lain yang lebih baik dan lebih sanggup memikul beban dakwah ini.”


Saya membayangkan di akhir perjalanan saya di jalan dakwah ini, apa mungkin akan mengatakan seperti yang dikatakan oleh Cristiano Ronaldo bahwa “Saya telah memberikan segalanya.” Rasa-rasanya malu dengan Akh Dodo itu yang bisa melebur dan totalitas dalam memperjuangkan sesuatu yang ia cintai. Untuk sesuatu yang bersifat duniawi, orang-orang tertentu begitu ambisius melakukannya. Namun untuk sesuatu yang memiliki nilai kemuliaan seperti berdakwah, sudah berapa persen kita melakukannya? Jangan 1000%, mungkin 50% pun kita masih malu untuk mengakuinya. 


~Kota Serang

08072026

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Buku Komitmen Muslim Sejati (Ust. Fathi Yakan) Bagian Pertama

BAB PERTAMA APA ARTINYA SAYA MENGAKU MUSLIM? Bagian pertama buku ini memaparkan karakteristik terpenting yang harus ada pada diri seseorang agar ia menjadi muslim sejati. Berikut akan di bahas secara ringkas karakteristik paling menonjol yang harus ada pada diri seorang muslim agar pengakuannya sebagai penganut agama ini merupakan pengakuan yang benar dan jujur.  Dalil: Qs. Al-Hajj:78 Karakteristik yang harus dimiliki agar menjadi seorang muslim sejati adalah sebagai berikut: Pertama : SAYA HARUS MENGISLAMKAN AKIDAH SAYA          Syarat pertama pengakuan sebagai muslim dan sebagai pemeluk agama ini adalah hendaklah akidah seorang muslim adalah akidah yang benar dan sahih, selaras dengan apa yang terdapat dalam Al-Quran dan sunah Rasulullah Saw. Konsekuensi dari mengislamkan akidah saya: 1.            Saya harus meyakini bahwa pencipta alam ini adalah Allah Yang Hakim (Mahabija...

Menyoal Fanatisme Organisasi

Sebagai mahluk sosial, seseorang tidak bisa lepas dari orang lain dalam menjalani kehidupan. Hampir setiap hari, kita melakukan interaksi sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mungkin inilah yang mendasari lahirnya sebuah perkumpulan sosial, dimana ada sekelompok masyarakat yang memiliki tujuan yang sama dan bersepakat untuk bersama-sama meraih tujuan tersebut. Lahirnya perkumpulan sosial ini biasanya di latar belakangi oleh kesamaan nasib sepenanggungan yang dialami akibat situasi sosial yang ada. Misalnya, bangsa Indonesia sebelum meraih kemerdekaan, memiliki semangat yang sama untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan, sebab penjajahan tersebut sangat membuat bangsa Indonesia terpuruk. Padahal diantara mereka sendiri terdapat banyak perbedaan, misalnya berbeda daerah, berbeda suku, berbedaya budaya, tetapi dipersatukan oleh nasib yang sama sehingga memutuskan untuk bersama-sama menjadi sebuah bangsa pada 28 oktober 1928, setelah sekira tiga abad melawan pe...

Raport Merah

Nilai rendah, kerap ditulis dengan tinta pena berwarna merah pada raport siswa di sekolah. Mendapat nilai merah tentu adalah hal yang memalukan bagi sebagian siswa. Sebagian lagi sudah terbiasa dan menganggap hal yang lumrah. Tapi, Alhamdulillah saya belum pernah mencicipi nilai merah untuk mata pelajaran apapun. Malah, sejak kelas 1-3 SD, saya selalu rangking 1. Hanya saja kelas 4-6 SD mulai turun dikit-dikit, sebab saat kelas 4 SD, saya mulai menemukan warna dalam kehidupan. Yang jelas bukan warna merah pada buku raport. Hanya memang warna raport kita pas SD memang warna merah, merah marun. Tinta merah pada nilai rendah, mungkin semacam pertanda bahwa seorang siswa harus lebih giat dalam menguasai mata pelajaran tertentu.  Tinta merah, juga dipilih agar tampak jelas dan mencolok, mungkin agar mencolok mata wali murid, agar membantu pekerjaan guru di sekolah dengan bekerjasama mengajari anak-anaknya belajar di rumah. Namun ada yang harus diwaspadai, jika semua ...