Langsung ke konten utama

Postingan

Kader KAMMI Segera Kembali!

Oleh : Imam Maulana Bagaimana kabar liburanmu hey aktivis perubahan? Setelah berlama-lama di kampus akhirnya kini kita merasakan indahnya liburan di rumah masing-masing. Kita bisa merasakan terbit matahari di rumah tercinta setelah sekian lama kita berada di kota nun jauh di sana (Kota Serang). Dulu kita sangat merindukan suasana bersama keluarga, dan kini rindu itu terobati. Bahkan kita setiap hari bertemu dengan mereka, makan bersama mereka dan canda tawa dengan mereka. Orang tua kita yang dulu sering menanyai kabar via sms/telepon tak risau lagi, karena anaknya kini bersamanya. Saudara-saudara kita yang sebelumnya hanya balas-balasan chat di dunia maya, kini bisa kita temui kapan saja karena rumahnya berdekatan dengan rumah kita. Para tetangga dan teman-teman kampung lebih sering melihat kita kembali bersama di lingkungan mereka seperti dulu sebelum kita kuliah. Lalu pertanyaannya adalah, mau sampai kapan kita di rumah? Sampai masa liburan selesai? Berarti masih banyak wa...

Bung Hatta Untuk Indonesia

Oleh : Imam Maulana (Sekjend KAMMI Daerah Serang 2014-2015)                 Hujan air mata dari pelosok negeri                 Saat melepas engkau pergi                 Berjuta kepala tertunduk haru                 Terlintas nama seorang sahabat                 Yang tak lepas dari namamu                 Penggalan syair karya Iwan Fals tentu mengingatkan kita akan sosok founding father salah satu proklamator kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Siapa tak kehilangan bapak koperasi ini? Ia terlahir bukan hanya untuk ...

Generasi Tolol dan Monyet

Oleh : Imam Maulana (Sabtu, 29 Agustus 2015, 07:30) “... Nggak geh tolol lo mah...” “... iyanya monyet emang geh...”                 Itulah percakapan anak-anak SMP yang sempat saya rekam di warung daerah sekitar Ciceri Permai, Kota Serang ketika sedang beli gorengan untuk sarapan pagi tadi. Sempat kaget mendengar bahasa yang dipakai oleh mereka. Nampaknya bahasa itu sudah melekat dan mendarah daging di lidah para oknum generasi muda itu. Saya mendengar bahasa itu bukan hanya sekali dua kali, tapi sering dan dengan orang-orang yang berbeda tapi masih seusia mereka. Miris dan menyakitkan, speachles dan ah sudahlah..                 Tidak semestinya kata-kata itu menjadi kosa kata yang dipakai untuk percakapan sehari-hari. Jati diri bangsa Indonesia adalah masyarakat yang beradab. Dan masyarakat yang beradab ialah masyarakat...

Mengembalikan Atmosfir Dakwah #4 "Bersabar"

Oleh : Imam             Pagi tadi saya sempatkan berangkat ke kampus untuk bertemu dengan seseorang. Sambil menunggu seseorang tersebut saya mampir ke stand pendaftaran Bimtes (Bimbingan Tes) KAMMI Komisariat IAIN SMH Banten, di lorong kelas Fuda (Fak.Ushuluddin, Dakwah dan Adab), samping Bank BTN. Di sana saya melihat kader-kader KAMMI dengan ketua umum yang baru hasil Muskom beberapa minggu kemarin sedang menunggu calon mahasiswa baru yang akan daftar masuk kuliah. Namun rupanya si calon mahasiswa ini tak kunjung datang. Tampak loket registrasi di Bank pun sepi, belum ada yang daftar untuk hari ini.  Saya yakin kader-kader KAMMI yang menjaga stand pendaftaran itu sangat antusias menanti camaba, namun karena sepi, terpaksa mereka hanya duduk-duduk saja sambil mengerjakan apa yang bisa dikerjakan.             Bersabarlah saudara-saudaraku ini baru awal. Dan meskipu...

Mengembalikan Atmosfir Dakwah Yang Hilang #3 “Anak Baru Giroh”

Oleh : Imam Maulana                 Usai tahiyat akhir sholat magrib tadi terdengar suara gemericik hujan yang memecah kesunyian markaz dakwah di daerah Kota Serang. Pada saat itu saya sedang sholat berjamaah bersama adik tingkat saya bernama Wildan Effendi. Saya jadi makmum dan dia jadi Imam. Kami sholat magrib di ruangan yang berada di lantai 2. Di gedung markaz dakwah tersebut hanya ada kami dan satu orang penjaga keamanan yang stay di pintu utama. Markaz dakwah saat itu betul-betul sepi, bahkan suara detik jam absensi manual pun terasa jelas terdengar. Markaz ini memang kadang-kadang sepi kadang-kadang ramai, ramai oleh kegiatan-kegiatan para kader-kadernya.  Kebetulan kami berdua sedang berada di sana sengaja untuk menunggu magrib setelah usai rapat agar tidak terjebak magrib di Jalan. Tak disangka saat kami ingin bersiap pulang setelah selesai sholat, hujan semakin lebat, kami terpaksa menun...

Mengembalikan Atmosfir Dakwah Yang Hilang #2 “Pejuang Spanduk”

Oleh : Imam Maulana             Tetesan air masih berjatuhan dari asbes rumah besar dakwah di komplek KPN, Kota Serang. Udara dingin menyergap masuk melalui jendela yang terbuka  di ruang kestari yang tepat bersebelahan dengan ruang depan. Di ruang tersebut terdapat 2 buah meja kerja yang disusun menempel dengan jendela, dan 1 meja lagi ditempatkan di pojok ruangan. Kabel-kabel cargeran laptop dan Hp yang kusut seperti menjadi pemandangan sehari-hari di sana. Setiap harinya pun rumah besar itu selalu didatangi oleh kader-kader dakwah yang berbeda-beda dari kampus yang berbeda-beda. Dan ruang kestari menjadi ruang bersama untuk kumpul dan berbagi ilmu. Sama halnya seperti yang terjadi pada malam yang dingin itu, ruang kestari lagi-lagi dipenuhi oleh kader-kader yang mengerjakan pekerjaannya di meja kerja bersama. Hujan lebat baru saja reda, Wildan dan Suhenda masih anteng dengan netbooknya, begitupun dengan Badri yang...

Mental Pemenang

Oleh : Imam Maulana                         Generasi pejuang harus memiliki mental sebagai seorang pemenang. Ia tidak mudah ditumbangkan hanya karena ia kalah dalam pertarungan. Hatinya tetap teguh seteguh batu karang di lautan. Bersabar dan bertahan sekeras dan seseering apapun deburan ombak menghantam. Alih-alih dia yang harus bersabar namun nyataya rintanganlah yang harus lebih bersabar untuk tetap bertahan menghadapi kesabarannya. Jauh di dalam kesendiriannya ia memilih untuk tetap tenang menjalani kehidupan. Dengan ketenangannya inilah tantangan demi tantangan dapat ia lalui. Ia sadar bahwa syetan akan mudah mengendalikan dirinya dalam ketergesa-gesaan. Seorang pemenang akan senantiasa berusaha menjauhi dirinya dari sesuatu hal yang membuat dirinya terhinakan. Ia sangat menjaga dirinya dari sesutau yang menurunkan derajatnya di mata orang lain. Dengan demikian ...