Langsung ke konten utama

Postingan

Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya

Setiap kali kita bersama anak, setiap kali itu juga adalah momen untuk meng- edukasi dan memberikan pelajaran berharga bagi mereka. Misalnya ketika anak kita terjatuh saat berjalan atau berlari. Umumnya orang tua akan langsung membangunkan anak. Namun hal ini jika sering dilakukan, akan membentuk rasa ketergantungan mereka pada orang tuanya. Sehingga suatu kali mereka terjatuh, mereka tidak akan bangun kecuali dibangunkan orang tuanya. Apalagi misalnya, membangunkan anaknya sembari marah-marah. Sudah jatuh, tertimpa omelan orang tuanya, hancurlah kepercayaan diri anak. Padahal anak tidak salah apa-apa. Wajar jika anak-anak lebih memilih nangis dan teriak-teriak ga jelas, daripada pusing dengerin ocehan orang tuanya. Lalu bagaimana seharusnya sikap orang tua ketika anak jatuh (tersandung) saat berjalan/berlari? mungkin ini bisa jadi alternatif : 1.  Berikan semangat dan ajarkan mereka untuk bangun sendiri. Dengan begini, kita sedang membangun kemandirian dan ketang...

Raport Merah

Nilai rendah, kerap ditulis dengan tinta pena berwarna merah pada raport siswa di sekolah. Mendapat nilai merah tentu adalah hal yang memalukan bagi sebagian siswa. Sebagian lagi sudah terbiasa dan menganggap hal yang lumrah. Tapi, Alhamdulillah saya belum pernah mencicipi nilai merah untuk mata pelajaran apapun. Malah, sejak kelas 1-3 SD, saya selalu rangking 1. Hanya saja kelas 4-6 SD mulai turun dikit-dikit, sebab saat kelas 4 SD, saya mulai menemukan warna dalam kehidupan. Yang jelas bukan warna merah pada buku raport. Hanya memang warna raport kita pas SD memang warna merah, merah marun. Tinta merah pada nilai rendah, mungkin semacam pertanda bahwa seorang siswa harus lebih giat dalam menguasai mata pelajaran tertentu.  Tinta merah, juga dipilih agar tampak jelas dan mencolok, mungkin agar mencolok mata wali murid, agar membantu pekerjaan guru di sekolah dengan bekerjasama mengajari anak-anaknya belajar di rumah. Namun ada yang harus diwaspadai, jika semua ...

Menyoal Fanatisme Organisasi

Sebagai mahluk sosial, seseorang tidak bisa lepas dari orang lain dalam menjalani kehidupan. Hampir setiap hari, kita melakukan interaksi sosial, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mungkin inilah yang mendasari lahirnya sebuah perkumpulan sosial, dimana ada sekelompok masyarakat yang memiliki tujuan yang sama dan bersepakat untuk bersama-sama meraih tujuan tersebut. Lahirnya perkumpulan sosial ini biasanya di latar belakangi oleh kesamaan nasib sepenanggungan yang dialami akibat situasi sosial yang ada. Misalnya, bangsa Indonesia sebelum meraih kemerdekaan, memiliki semangat yang sama untuk merdeka dari segala bentuk penjajahan, sebab penjajahan tersebut sangat membuat bangsa Indonesia terpuruk. Padahal diantara mereka sendiri terdapat banyak perbedaan, misalnya berbeda daerah, berbeda suku, berbedaya budaya, tetapi dipersatukan oleh nasib yang sama sehingga memutuskan untuk bersama-sama menjadi sebuah bangsa pada 28 oktober 1928, setelah sekira tiga abad melawan pe...

Gaya Kepemimpinan, Jadi Faktor Penting Lahirnya Ketaatan

Serial Kepemimpinan 12   Mengapa seorang anggota tidak memiliki ketaatan utuh terhadap ketua organisasi, padahal Ia telah melalui serangkaian pembinaan organisasi cukup lama? Bahkan sebenarnya Ia telah memahami bahwa ketaatan itu penting dalam proses berorganisasi? Mari kita simak ulasannya dari referensi yang eksklusif dan kurang dieksplorasi ini..   Dalam tulisan kemarin, Sa'id Hawa memberikan pelajaran bahwa ada dua kata kunci agar muncul sebuah ketaatan utuh dari seorang anggota organisasi, ialah Ilmu dan Kepercayaan (rasa percaya terhadap pemimpin).   Pertama, Ilmu. Bila pada tahap pertama, seorang anggota organisasi sekedar diberikan informasi umum tentang nilai-nilai atau prinsip umum organisasi, maka pada tahap kedua, anggota organisasi diberikan fasilitas pembinaan guna menginternalisasi nilai-nilai dan prinsip organisasi secara lebih khusus dan mendalam. Dalam proses ini kira kira terjadi transmisi ilmu, proses pembangunan keyakinan terhadap sebuah p...

Sekilas Kemunculan Ketaatan

Serial Kepemimpinan 11   Sebagai seorang pemimpin, kita selalu merasa ingin ditaati oleh anggotanya. Kita pun tentunya senang dengan anggota-anggota yang taat, dan kadang kesal dengan anggota yang tidak taat. Fenomena itu biasa dalam sebuah organisasi.   Yang perlu kita sadari, ketaatan seorang anggota pada pimpinannya bukanlah hal yang instan, melainkan harus melalui serangkaian proses tahapan. Sehingga seorang pemimpin tidak bisa serta merta menuntut setiap anggotanya untuk taat, padahal anggotanya belum pernah diberikan pemahaman tentang apa hak dan kewajibannya sebagai seorang anggota.   Bila mengambil inspirasi dari Hasan Al-Banna, maka kita dapat temukan pelajaran bagaimana Ia membagi tahapan proses seseorang menuju pribadi yang nantinya bisa diambil komitmen ketaatannya dalam sebuah organisasi. (Taat yang dimaksud oleh Hasan Al-Banna, ialah ditunaikannya perintah dengan serta merta, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, saat bersemangat maupun malas) ...

Gw Punya Pemimpin Yang Asik

Pergibahan Duniawi di Sudut Grup WA Terselubung (Serial Kepemimpinan 10) Menciptakan iklim organisasi yang baik, bisa dimulai dari gaya kepemimpinan seorang pemimpin. Dalam hal ini yang dimaksud iklim organisasi yang baik tersebut adalah ketika hubungan antar anggota dan ketua terbangun kemistri yang apik untuk menjalankan sebuah rencana-rencana organisasi. Pada umumnya setiap anggota kelompok/organisasi menyukai pemimpin yang asik; care, egaliter, demokratis, dan easy going. Namun tidak sedikit justru pemimpin yang ada ialah pemimpin yang kaku, terlalu tekstual, dan kurang peduli terhadap kondisi yang dialami oleh para anggotanya. Kenyamanan kita pada seorang pemimpin setidaknya memberikan efek positif pada kerja-kerja yang kita lakukan sebagai prajurit. Sebaliknya, ketidaknyamanan kita pada gaya kepemimpinan seseorang akan menambah beban pada setiap pekerjaan. Ada yang bilang, faktor utama seseorang resign dari pekerjaan adalah disebabkan oleh ketidaknyamanannya pada seorang at...

Pemimpin Juga Bisa Salah

Pergibahan Duniawi di Sudut Grup WA Terselubung (Serial Kepemimpinan 9) Pemimpin juga manusia, yang tak lepas dari celah kesalahan. Kesadaran ini memberikan inspirasi kepada kita sebagai pemimpin, bahwa jabatan apapun tidak membuat kita jadi orang yang kata-kata dan tindakannya pasti benar. Tersebab kelemahannya tersebut, maka hendaknya kita tidak menutup ruang diskusi atau ruang bertukar ide dan gagasan, terhadap kebijakan-kebijakan sebuah organisasi. Usulan, kritik, pendapat, sama sekali bukan aib yang dapat memudarkan kredibilitas kepemimpinan seseorang. Justru pemimpin yang matang, ialah pemimpin yang siap menerima kritikan. Hal ini yang diajarkan oleh Khalifah Abu Bakar As-sidiq dalam pidato pertamanya setelah beliau diangkat sebagai Khalifah pertama sepeninggal Rasulullah Saw. Saudara-saudara, aku telah diangkat menjadi pemimpin bukanlah karena aku yang terbaik di antara kalian semuanya, untuk itu jika aku berbuat baik bantulah aku, dan jika aku berbuat salah luruskanlah ak...